Palu Krisis Informasi Kebencanaan
K
|
embali Indonesia mengalami duka,kali ini gempa bumi berkekuatan 7.4 skala richter (SR) yang disertai amukan gelombang tsunami setinggi 5 meter menyapu palu dan doggala ,sulawesi tengah jumat (28/9) lalu. Kejadian ini mengulang kenangan pahit 14 tahun silam. Ketika pesisir aceh diluluh – lantakkan oleh bencana yang sama pada 26 Desember 2004 lalu,bencana tersebut bukan hanya menghilangkan harta benda ,namun nyawa orang – orang tersayang ikut tersapu Bersama gelombang raksasa itu.
Kondisi kota yang yang dipimpin pasha ungu (wakil wali kota setempat) mendapat kan belasungkawa dari semua elemen masyarakat,BNPB melaporkan sudah 384 jiwa meninggal dihantam amukan gelombang biru tersebut, dan mungkin angka ini akan terus bertambah, bahkan jaringan komunikasi putus, listrik padam,mobil,hingga sebuah kapal ikut melintang di tengah jalan akibat terseret arus tsunami.kenapa angka korban tsunami di Indonesia tetap tinggi, padahal tsunami bukan hanya terjadi sekali, jawabannya kita belum belajar dari pengalaman.
Masih ingat dengan kata smong ? smong berasal dari bahasa simeulue,yaitu himbauan agar masyarakat segera lari ke bukit setelah gempa terjadi,karena sebentar lagi air laut akan naik atau pasang .(wardhadani.2011:7).budaya smong di aplikasikan kepada masyarakat dan generasi kedepannya, alhasil pada tahun 1907 kejadian serupa terjadi, namun kearifan – kearifan lokal membuat pengetahuan masyarakat tentang mitigasi kebencaan terus tersalurkan sehingga hanya 7 orang saja yang tewas disebabkan amukan tsunami,hal ini berbanding terbalik dengan banda aceh dan aceh besar yang menewaskan hampir 200 ribu jiwa.
Manusia memang tidak bisa melawan takdir allah SWT .tetapi kita diberikan kesempatan mengubah nasib jika kita berusaha dan berupaya untuk mengubahnya, berikut ada beberapa tawaran agar pengetahuan kebencanaan kedepan bisa terus disampaikan.seperti membuat game online berbasis pengetahuan kebencanaan, atau pengetahuan tentang kebencanaan dimasukkan kedalam mata pelajaran sehingga pengetahuan tersebut tidak akan hilang walaupun generasi terus berganti.
Sehingga insyaallah kita akan bisa menekan jumlah yang disebabkan oleh bencana yang sama karena pengetahuan atau budaya smong selalu diaplikasikan didalam aspek kehidupan. Sekarang tinggal kita bagaimana menjadikan pengetahuan ini sebagai pengingat yang sangat berguna dimasa yang akan datang.
Komentar
Posting Komentar